Powered By Blogger

Senin, 25 November 2013

mati suri

ia selalu merindukan...mencari dalam selalu
mati suri...mati suri ia telah kembali
mati suri...ia menari ia menyanyi 
dalam sepi dalam sunyi

ia mengembang bersama batu  batu membisu
mati suri...ia berapi api dalam lautan ia menepi

mati suri... ia menari
ia tidak bersedih...ia tidak bergembira
bahkan ia tak pernah bahagia

mati suri..ia kembali
ia menari...ia bernyanyi 
dalam sepi ia selami sunyi

mati suri...
ia tidak terhidupkan
ia tidak pernah mati

mati suri...ia kembali


"171113"


Minggu, 24 November 2013

Surgaku Dolly

...soerabaya tak lagi ramah
...soerabaya ia tak bergema
...soerabaya ia tak bersuara 

kaki kakiku...kaki kakiku bergelimang tajam
nadi nadiku...nadi nadiku mewujud linangan

...soerabaya ia tak membara

surga surgaku...surga surga ku...surga surgaku
kubangan sampah dari konak konak
konak konak berdahaga
surga surgaku...surga surgaku...dolly

Dolly...surgaku

aku mengangkang...aku mengangkang dari lubang lubang tertutup
hanya untuk beberapa nyawa...hanya untuk nadi nadi kecil
yang terus bergerak mengembang  membesar
yang terkeluar dari kubang kubang lubang surgaku

Dolly surgaku...

aku bukan perempuan...aku bukan wanita
aku bukan pelacur...bukan pelacur
aku adalah airmata berlian
berlian daripada airmata airmata berlinangan

surgaku...Dolly


"171113"

Kamis, 31 Oktober 2013

"cerita sunyi"

aku bernyanyi... ruangkan sepi....
aku menari... selami sunyi....

diamkan diri... tuk dekati....
heningkan hati... temukan arti....


usahlah lari... usah sembunyi....
untuk hadapi... cerita sunyi....

satukan rasa...leburkan jiwa....
satukan asa...leburkan sukma....


tersenyumlah cinta.......

tatkala

Kadang heran menerkam
kadang tiada pikir tuk satu yang pasti
kadang senyum tersungging oleh sebuah tawa terkeluar

...kala waktu merengkuh
rasio enggan tuk berotasi
...kala halimun sunyi menabuh
asa cita pun menari 

...kala riuh peluk hingar
linangan itu mulai menjalar
...kala terpaku satu 


DAMAI...

mengembara kelana...

bertapa pada surya 
aku bercinta pada angkasa
tarian ku di cakrawala
aku menepi di samudera

     dalam tanah aku berdiri
     bersama air aku berlari
     udara mengembara nafas riuh
     dalam luapan api jiwa

konak surga perkosa neraka
neraka mengangkang lembut belai surga

     aku bertapa pada surya
     aku yang bercinta pada angkasa
     tarian ku di cakrawala
     aku menepi di samudera

anak angin mengembara kelana
anak angin riuh dia angkasa raya
ia berdiri, ia meniti jejaki bhumi
kembali pada mukti di nadi mukti
    
     bermahkota merah berwibawa
     dalam balut jubahmu putih berkharisma
     anak angin kembali pada pangkuan mu
     anak angin dalam rengkuh mu

...Ibu Bhumi



170913_17.05

Kamis, 12 September 2013

Gerobak itu gerbong...

Dari rel yang tak kan pernah disatukan
Dua besi enggan tuk berjauhan
Selaras seirama sejalan satu tujuan
Menuju...

Dari sebuah kayu ia terbentuk gerobak
Tempat untuk alirnya sebuah kehidupan
Gerbong Mu terwujud dari sisi ribuan tahun terhilang
Engkau kembali...

Dari sajak pasir rel rel itu berjalan
Sebuah prosa terbentuk sambut syair syair indah Mu
Sebutir puisi dasar gerbong Mu
Kan melaju...

Dari hentian titik terkadang terhenti
Tuk jeda sejukkan rel rel itu
Dari panas kala gerbongmu melaju
....gerbong Mu melaju

Rel rel itu menyatu tak berhimpit
Hantarkan gerobak dalam sebuah gerbong
Kan selalu menyatu
Hantar dalam laju gerbong

Rel dalam sajak gerbong Mu...


120913.0713

Samudera...2

Engkau sendiri dalam rintih meringkih
Hingar bergelegar tak terdengar
Bergulat telajang zinamu akan angan
Lucuti pesona gaun

Engkau tengadah

Kaku membangkai dawai tak melambai
Membisu alunan air bermekaran
Apung terapung...

Sandarlah di samuderamu...#ni

030913.0245

Kulminasi ke'esa'an adi kodrati.....

...
.....
.......
.........

1 : 0 = tak terhingga

0 : 1 = nol

      ...
    .....
  .......
.........

Dzat dan Manusia.....


030913.0254



Di sebuah taman Cerdas untuk Mengerti...

Tikar itu membentang tengadah anyaman daun pandan
Kenanga kokoh tegak mengharum ia memojok
Menghadap hening arus alir mengalir
Memanjang ia pada satu tertuju..samudera

Cempaka merontah akan dahaga
Ringkih ia kejar arti sebuah hidup
Senyum melebar serumpun dedaunan
Melecut cambuk cempaka kan hidup

Kemuning riang berdendang tebarkan pesona
Menjalar tak berarah sejuknya sukma
Rumput mengekar akan sabar sadarnya
Dalam damai jedakan jiwa jiwa gersang

Setumpuk hitam ban merangkai
Ia terbuang..ia tercampakkan
Ia malu..ia membisu
Teguh kokoh pada bulat lingkarnya

Ia mengerti..ia dimengerti..memaknai sebuah kata arti
Di sebuah taman Cerdas untuk Mengerti
Memaknai sebuah kata arti
Hakiki budi pekerti


090913.1651

Itu cuma...

Ia adalah warna tanpa harus ia bersolek
Berwujud kosong hampa tak beruang
Tanpa kaki berjalan tak bertumpu
Melambai tanpa hasrat tak wujud tangan

Ia tiba..ia menyapa..berlalu tiada menjadikan ia ada
Tak berwaktu dan bukan waktu
Nadi mengiri akan dekat nya
Raga pasrah akan pinta nya

Energi tak berdaya menunduk pada sumbernya
Ia melebur tanpa cawan

Amarah merintih kasih bergumul jiwa
Sukma merengkuh tangguh lingkar sayang senyawa
Keras berontak  hening mu abadi
Kekal membisu lembut mu bertutur

Jiwa itu berzina bersenggama menyatu akan sukmanya
Tatih meniti tatihkan abadi sejati
Langit mengembara semesta
Abadi...Sejati...jiwa sukma hening dalam belai Roh Ruh Nya


090913.1629

"Getar Cahaya"

Tercipta dari titik mukti..sang wujud
Dari waktu yang bukan waktu..tiba
Sebuah ruang tak beruang..ia ada
Ia muksa dengan cipta tak kasat...mewujud

Teraliri gelombang menjelma getaran
Getaran dari apa yang tergetar
Larilah..menjauhlah dari getaran...kan semakin tergetar
Daya tak berdaya mampu tak kan mampu

Kuliti kerak kerak samarmu
Koyak molekul wujud ciptamu
Berontak getaran tergetar kala kuat menyirna
Ia hening kala kembali menitik mukti

Ia adalah khatulistiwa dua kutub
Tak bersinggung tak terlepas
Bukan persatuan tak disatukan
Ia menyatu..ia satu adalah bumi dalam wujud Nya

Hening bersemayam dalam getar Nya
Tak kan bergetar tak kan tergetar
Aku Kau Kita Satu
Wujud "getar" NYa


070913.0507

Kuning itu tersangggah Cokelat...

Pendatang ia datang tanpa tahu tujuan ia datang
Tak berakal..ia berakal...ia datang
Tiba dengan polosnya ia hampa
Tanpa sadar sodor lembar sehelai

Kosong murni terisi...samar tak beraksara
Tinta tinta merayu mencumbunya
Tetap samar tak beraksara tanpa warna

Ia melangkah tanpa warna tanpa arah
Tapak setapak jejakmu terlangkah

Engkau tersapu engkau tersipu
Pada diri pada pribadi..sejati
Pintamu akan tetes titik tintanya..tiada pintamu
Lembarmu gemulai tak berdaya

Apakah tinta tinta itu..
Tintamu kah
Apakah warna warna itu..
Berwarna kah

Ia tak bertinta..ia tak berwarna
Ia adalah aksara tak beraksara
Ia warna tanpa warna
Tak memberi akan pinta..tiada pinta akan pemberianmu

Ia adalah isi tanpa mengisi
Tak bertinta tanpa warna ia mewujud
Tanpa memberi tanpa meminta
Ya..ia...adalah Kasih

090913.1745

Minggu, 25 Agustus 2013

"sejawat dalam perjalanan cahaya mu"

engkau adalah aku tanpa kata dalam cawan waktu...di ruang sebuah tungku
nama mu adalah kami,kita...ya semua pada garis titian mu

engkau hidup..kami hidup...

raga hanya kencana pada ufuk ia terpeluk jingga
jiwa mewujud warna dalam sederhana
sayup di netramu pendam bara luapan jiwa

nada mu mengema mengembara...mengalun di tepian mukti nadi
membias senyum mu, engkau peluk kami membalik cahaya
rengkuh lingkar erat kami di kejauhan...

"untukmu amink"

Senin, 27 Mei 2013

Yang Terlupakan... (BENDERA SETENGAH TIANG)

...

bagiku...tetesan keringatmu adalah cambuk pelecutku
bagiku...lantang suaramu adalah halilintar semangatku
bagiku...sosokmu adalah energi dalam ragaku
bagiku...kerut di rautmu adalah penuntun dalam pengabdianku
bagiku...cucuran darahmu adalah isi dari segala jiwaku

...dan

bagiku...Engkau tetap PAHLAWAN'ku...PAHLAWAN BESAR'ku

perjalananmu adalah bentangan Persada
lukamu adalah penghapus linangan Pertiwi
dalam ragamu membara sang MERAH
di jiwamu bernaung sang PUTIH


bagiku...

Engkau tetap PAHLAWAN'ku...

BANGUN...!!! BANGKIT...!!! BERGERAK...!!!

POETRA POETRI PERTIWI...

linangan dalam tunduk'ku...

...teruntukmu PAHLAWAN.






Senin, 29 April 2013

habis terang terbitlah gelap...



Diri terpeluk waktu dalam mukti pribadi
Buai jalan likumu paksa sukma tuk merintih
Tertatih aku melangkah di semu’nya benderang
Rangkai sisa tapakmu dalam perjalanan panjang

            Terlena aku dalam benderang…
            Jurang mengangah buas menerkam…

Engkau pergi berlalu selami temaram
Diheningmu kidung kidung berlarian
Mengurai kusut berbentuk rajutan
Tuk mewujud Dwi Warna lembar helaimu

            Aku yang menjauh dari sejatiku
            Berdetak oleh ulur lentik jemarimu

Kembali sosokmu rasuki jiwaku
Gumpalkan energi sejati di ujung pedangku
Menebas kokoh gincu gincu manjaku
Tuk kembalinya sejati diri dalam pribadiku

Pertiwi…
Aku kan menari di gulita ciptaku
Hanya dalam gulita, hakiki biasmu terpendar

Pertiwi…
Aku anakmu
Kami Poetra Poetri’mu

Pertiwi…
Hentikan jeritmu
Murni tetesanmu usahlah berlinang

Pertiwi…
Aku anakmu
Kami Poetra Poetri’mu

… Untukmu Poetri Pertiwi




Rabu, 10 April 2013

Sendal Jepit…


Kemana wujud dari sebuah sendal… LANDASAN tapak tuk berjejak
Sembunyikah penamu… tuk torehkan SEJARAH
Sampul sampul indah bukumu… apa hanya tuk palingkan CERITA
Kain pun masih Terberai

Secuil guratan tangan tercampak keindahan
Wajah berparas lentik tikam sejawat
Gagahmu yang berpaling
Goyang warna dalam pena

Sendal kembali tertapak… LANDASAN

“100113”





Samuderamu…


Berjalan ke arahku engkau tapakkan senyummu
Berhimpit waktu, kau bentangkan rindu akan rasamu
Melawan sebuah gambaran, goretkan tinta tinta warna
Kanvas berisikan buliran rindu, bentuk lukisan abstrak akan semua itu

Satu…yang tersatukan

Awalan langkah mulai tergerak
Tapakkan jejak tuk perjalanan panjang
Mencari titik akhir cerita dari derita tanpa akhir

Jabat eratmu dekap langkah kita…

Berpaling dari warnamu, reguk buah hasil rasa itu
Indah tercipta di warna baru
Yang selalu tersenyum

…bias indahmu

Terkadang engkau berontak akan warnaku, wujud akan rasamu
Emosimu samar terkadang menyapaku, khawatirmu…
Semua kau perlihat dengan bahasa nyata
Senyummu…

Yang selalu bersama dalam Samuderamu… (Tanah Persada)

…Anak Angin di tapaknya yang tak terjejak

“071112”



Terbahak dalam hiruk keramaian…


Kala setiap manusia bertarung dalam peperangan hidupnya, aku mulai dihantui oleh kelakar candaku…lalu lalang kesedihan tak berujung, berhembus butiran debu di pipimu…mengejar mimpi mimpi di bayang angan itu, keluar engkau dari lamun tengadah…


Berjalan angan tak tersentuh
Kecup mimpi sunyimu

Kala waktu mengoda  memelukmu, senyum tersipu
Beranjak dari sadarmu, engkau pun memulai itu
Terbahak langkah lunglai, peluh basuh semangatmu
Terjang terjal mengarahmu, semnyum kau lalui itu
Kerikil pun gelitik tapakmu

Angan terpanggang tergoda tawa
Menjelma semu butiran mimpi
Menangis merintih engkau tersenyum
Sibak tirai lamun tengadah

Menari nari…berlaria terirak tiram
Mencari arti dari arti
Miliki mimipi wujud sebuah arti
Mimpi mimpi pun berarti

… yang berlari mengejar mimpi dalam sebuah arti

“0202_052012”



Sabtu, 16 Maret 2013

"Matahari Timur"

Berlalu tinggalkan yang lalu, ia pun beranjak menapak. Dalam renungan malam ia bertatap menghadap pada Sang Penyata, tanyakan jawab yang tersembunyi... Ia masih beranjak... Tatapan kosong penuh arti ia tampakkan, buah pencarian di sunyinya gemintang.

Bernyanyi riang dalam tangis diri, wujud bahagia ia dapatkan dari Sang Penyata. Gulita perlahan benamkan biasnya, melaju sambut pendaran fajar...ia yang masih perlahan...kemerah merahan mulai menampakkan paras berwujud cipta, nantikan tangan tangan bercumbu pada kaki kaki terlangkah...

Semakin menampakkan wujudnya, ia mulai memeluk diri diri yang terpaku dalam kegelapan...belai pribadi dengan sinar di kehangatan pagi, masih memeluknya...pikul beban pribadi dari diri diri yang masih tersembunyi. 

Malam gelaplah pada gulita, beraikanlah warna warna merugi. Siang teranglah pada benderang, wujudkanlah pribadi indah dalam warnanya...yang perlahan. Ia tampakkan wujudnya di timur kejauhan, teramat dekat kala sang diri mampu merasa hangat dalam biasnya...tak kan pernah merasa jauh teruntuk jiwa yang damai dalam pendaran sinarnya... 

Menapak di hangatnya pagi, ia pun beranjak... Mencari rangkaian dari kata kata terberai tuk wujudkan catatan samar dalam sebuah kanvas fana. Dimulai dari prolog kecil ia merangkai kayanya kata yang masih kuncup dalam warna dunia. Urutkan sajak hidup terbenam oleh peluk temaram, terpendarlah... 

Di sengatan surya meninggi semakin deras kucuran itu, peluh di tiap tetes keringatmu...apa itu wujud linangan darahmu...gambaran dari peperangan dalam perjuangan hidupmu... Engkau pun masih nikmat, senyummu membias warna indah... Tiada keluh bersandingkan kesah dalam setiap ucap gerakmu, yang masih tersenyum... 

Pendaran beranjak condong ke ufuk peraduan, engkau pun membasuh peluh dalam tetesan itu...senyummu. Rajut merangkai kata yang kau tempel di catatan samarmu, mengisi mukti dari cerita panjang hidupmu. Mencari titik akhir cerita dalam sejarah indahmu... Berlalu dari sengatan surya, dalam jeda di singgahmu... Menanti kejora lambaikan damai bercumbu pada temaram diatas panggung lembayung senja. 

Dalam singgah engkau temukan Telaga, benamkan dahaga di kegersangan rasa. Kau teguk jernihnya telaga rasa, engkaupun semakin teduh dalam rindangmu...di teian telaga engkau menjulang tinggi kokoh di teduh rindangmu. Sejukkan Telaga yang selama ini menyendiri dalam pelukan surya, nantikan hanum yang merindu di teduh rindangmu... Engkau yang tersenyum indah bersama Telagamu.. 

Perlahan pendaran surya hanyut dalam pelukan ufuk di peraduan , jedanya tuk sambut sang esok...lembayung pun tak lagi senja. Kembali abadi menampak dalam gulita semesta, engkau yang tetap teduh...tersandaralah Telaga di teduh damainya rasa. Gemintang gemulai dalam tarian malam, purnama terkulai dalam pelukan rembulan...seakan tak mau tertinggal, sang bayu lirih melantun nyanyikan kerinduan...pucuk pinus pun tersenyum dalam dendang di panggung gulita malam. 

Malam semakin malam, gulita riang dalam benderang rembulan, lepaskan penat dalam perjuangan panjang di perjalanan hidup. Peluh yang terkucur oleh kesah sirna akan kesejukan di teduhnya hati kala damai rengkuh dirindangnya jiwa, sukma pun tersenyum di jernihnya Telaga... 

Bersama menghadap Sang Penyata akan nikmat peluh, kucuran semangat dalam wujud keringat semakin kuatkan wujud spiritual diri dalam pribadi kami...semakin menyeimbangkan kami sebagai Neraca antara Nurani dan Tirani yang bersemayam dalam kejernihan hati...semakin larut dalam hening sunyinya gulita...hening kami dalam renung cipta, sujud akan segala warna warna indah ciptaMU... 

Sepertiga malam waktu tersisa mewujudkan penyatuan dalam doa dari satu kesatuan mantra mantra jiwa atas namaMU...segala bentuk adalah wujud nikmatMU, dan langkah kami atas restuMU... Teduhkan Rindang damai kami, Jernihkanlah Telaga tempat kami membasuh diri... Teduh bersandingkan Jernih dalam Abadi-MU...

Titik akhir cerita dalam sebuah cerita yang selalu mencari akhir cerita dari sebuah cerita tanpa akhir sebuah perjalanan panjang "Matahari Timur"


"........dalam heningnya, esok kan menjelang"

17.26_27.02.13





Sabtu, 05 Januari 2013

ketika setia berkata...

setia...

ya...ia akan setia terhadap kata kata
ya...ia senantiasa setia kepada sang terucap
ya...ia tak kan ingkar oleh geraknya
ya...ia akan setia terhadap kaki dalam langkahnya

ketika ia berkata setia...

ia akan setia temani netra dalam tampak pilihnya
ia akan tetap setia menjaga alunan simphony hatinya
ya...ia akan setia kepada angin tuk dekap siupnya
ya...ia akan tetap setia berdampingan dengan malam di siangnya
ya...ia akan tetap setia...

ketika ia setia...

ya...ia akan tetap setia dengan dengan senyum dalam dukanya
ya...ia setia pada bahagia, setia akan renungan tuk kekalkan rasa'nya
ya...ia akan setia di butiran waktu yang mengodanya
ya...ia akan tetap setia pada lingan rasa'nya

ia setia...

setia akan diri di pribadinya
setia pada sukma dalam jiwanya

ya...ia akan setia kepada setianya rasa

...rasa setia