Powered By Blogger

Senin, 29 April 2013

habis terang terbitlah gelap...



Diri terpeluk waktu dalam mukti pribadi
Buai jalan likumu paksa sukma tuk merintih
Tertatih aku melangkah di semu’nya benderang
Rangkai sisa tapakmu dalam perjalanan panjang

            Terlena aku dalam benderang…
            Jurang mengangah buas menerkam…

Engkau pergi berlalu selami temaram
Diheningmu kidung kidung berlarian
Mengurai kusut berbentuk rajutan
Tuk mewujud Dwi Warna lembar helaimu

            Aku yang menjauh dari sejatiku
            Berdetak oleh ulur lentik jemarimu

Kembali sosokmu rasuki jiwaku
Gumpalkan energi sejati di ujung pedangku
Menebas kokoh gincu gincu manjaku
Tuk kembalinya sejati diri dalam pribadiku

Pertiwi…
Aku kan menari di gulita ciptaku
Hanya dalam gulita, hakiki biasmu terpendar

Pertiwi…
Aku anakmu
Kami Poetra Poetri’mu

Pertiwi…
Hentikan jeritmu
Murni tetesanmu usahlah berlinang

Pertiwi…
Aku anakmu
Kami Poetra Poetri’mu

… Untukmu Poetri Pertiwi




Rabu, 10 April 2013

Sendal Jepit…


Kemana wujud dari sebuah sendal… LANDASAN tapak tuk berjejak
Sembunyikah penamu… tuk torehkan SEJARAH
Sampul sampul indah bukumu… apa hanya tuk palingkan CERITA
Kain pun masih Terberai

Secuil guratan tangan tercampak keindahan
Wajah berparas lentik tikam sejawat
Gagahmu yang berpaling
Goyang warna dalam pena

Sendal kembali tertapak… LANDASAN

“100113”





Samuderamu…


Berjalan ke arahku engkau tapakkan senyummu
Berhimpit waktu, kau bentangkan rindu akan rasamu
Melawan sebuah gambaran, goretkan tinta tinta warna
Kanvas berisikan buliran rindu, bentuk lukisan abstrak akan semua itu

Satu…yang tersatukan

Awalan langkah mulai tergerak
Tapakkan jejak tuk perjalanan panjang
Mencari titik akhir cerita dari derita tanpa akhir

Jabat eratmu dekap langkah kita…

Berpaling dari warnamu, reguk buah hasil rasa itu
Indah tercipta di warna baru
Yang selalu tersenyum

…bias indahmu

Terkadang engkau berontak akan warnaku, wujud akan rasamu
Emosimu samar terkadang menyapaku, khawatirmu…
Semua kau perlihat dengan bahasa nyata
Senyummu…

Yang selalu bersama dalam Samuderamu… (Tanah Persada)

…Anak Angin di tapaknya yang tak terjejak

“071112”



Terbahak dalam hiruk keramaian…


Kala setiap manusia bertarung dalam peperangan hidupnya, aku mulai dihantui oleh kelakar candaku…lalu lalang kesedihan tak berujung, berhembus butiran debu di pipimu…mengejar mimpi mimpi di bayang angan itu, keluar engkau dari lamun tengadah…


Berjalan angan tak tersentuh
Kecup mimpi sunyimu

Kala waktu mengoda  memelukmu, senyum tersipu
Beranjak dari sadarmu, engkau pun memulai itu
Terbahak langkah lunglai, peluh basuh semangatmu
Terjang terjal mengarahmu, semnyum kau lalui itu
Kerikil pun gelitik tapakmu

Angan terpanggang tergoda tawa
Menjelma semu butiran mimpi
Menangis merintih engkau tersenyum
Sibak tirai lamun tengadah

Menari nari…berlaria terirak tiram
Mencari arti dari arti
Miliki mimipi wujud sebuah arti
Mimpi mimpi pun berarti

… yang berlari mengejar mimpi dalam sebuah arti

“0202_052012”