Powered By Blogger

Rabu, 10 April 2013

Sendal Jepit…


Kemana wujud dari sebuah sendal… LANDASAN tapak tuk berjejak
Sembunyikah penamu… tuk torehkan SEJARAH
Sampul sampul indah bukumu… apa hanya tuk palingkan CERITA
Kain pun masih Terberai

Secuil guratan tangan tercampak keindahan
Wajah berparas lentik tikam sejawat
Gagahmu yang berpaling
Goyang warna dalam pena

Sendal kembali tertapak… LANDASAN

“100113”





Samuderamu…


Berjalan ke arahku engkau tapakkan senyummu
Berhimpit waktu, kau bentangkan rindu akan rasamu
Melawan sebuah gambaran, goretkan tinta tinta warna
Kanvas berisikan buliran rindu, bentuk lukisan abstrak akan semua itu

Satu…yang tersatukan

Awalan langkah mulai tergerak
Tapakkan jejak tuk perjalanan panjang
Mencari titik akhir cerita dari derita tanpa akhir

Jabat eratmu dekap langkah kita…

Berpaling dari warnamu, reguk buah hasil rasa itu
Indah tercipta di warna baru
Yang selalu tersenyum

…bias indahmu

Terkadang engkau berontak akan warnaku, wujud akan rasamu
Emosimu samar terkadang menyapaku, khawatirmu…
Semua kau perlihat dengan bahasa nyata
Senyummu…

Yang selalu bersama dalam Samuderamu… (Tanah Persada)

…Anak Angin di tapaknya yang tak terjejak

“071112”



Terbahak dalam hiruk keramaian…


Kala setiap manusia bertarung dalam peperangan hidupnya, aku mulai dihantui oleh kelakar candaku…lalu lalang kesedihan tak berujung, berhembus butiran debu di pipimu…mengejar mimpi mimpi di bayang angan itu, keluar engkau dari lamun tengadah…


Berjalan angan tak tersentuh
Kecup mimpi sunyimu

Kala waktu mengoda  memelukmu, senyum tersipu
Beranjak dari sadarmu, engkau pun memulai itu
Terbahak langkah lunglai, peluh basuh semangatmu
Terjang terjal mengarahmu, semnyum kau lalui itu
Kerikil pun gelitik tapakmu

Angan terpanggang tergoda tawa
Menjelma semu butiran mimpi
Menangis merintih engkau tersenyum
Sibak tirai lamun tengadah

Menari nari…berlaria terirak tiram
Mencari arti dari arti
Miliki mimipi wujud sebuah arti
Mimpi mimpi pun berarti

… yang berlari mengejar mimpi dalam sebuah arti

“0202_052012”



Sabtu, 16 Maret 2013

"Matahari Timur"

Berlalu tinggalkan yang lalu, ia pun beranjak menapak. Dalam renungan malam ia bertatap menghadap pada Sang Penyata, tanyakan jawab yang tersembunyi... Ia masih beranjak... Tatapan kosong penuh arti ia tampakkan, buah pencarian di sunyinya gemintang.

Bernyanyi riang dalam tangis diri, wujud bahagia ia dapatkan dari Sang Penyata. Gulita perlahan benamkan biasnya, melaju sambut pendaran fajar...ia yang masih perlahan...kemerah merahan mulai menampakkan paras berwujud cipta, nantikan tangan tangan bercumbu pada kaki kaki terlangkah...

Semakin menampakkan wujudnya, ia mulai memeluk diri diri yang terpaku dalam kegelapan...belai pribadi dengan sinar di kehangatan pagi, masih memeluknya...pikul beban pribadi dari diri diri yang masih tersembunyi. 

Malam gelaplah pada gulita, beraikanlah warna warna merugi. Siang teranglah pada benderang, wujudkanlah pribadi indah dalam warnanya...yang perlahan. Ia tampakkan wujudnya di timur kejauhan, teramat dekat kala sang diri mampu merasa hangat dalam biasnya...tak kan pernah merasa jauh teruntuk jiwa yang damai dalam pendaran sinarnya... 

Menapak di hangatnya pagi, ia pun beranjak... Mencari rangkaian dari kata kata terberai tuk wujudkan catatan samar dalam sebuah kanvas fana. Dimulai dari prolog kecil ia merangkai kayanya kata yang masih kuncup dalam warna dunia. Urutkan sajak hidup terbenam oleh peluk temaram, terpendarlah... 

Di sengatan surya meninggi semakin deras kucuran itu, peluh di tiap tetes keringatmu...apa itu wujud linangan darahmu...gambaran dari peperangan dalam perjuangan hidupmu... Engkau pun masih nikmat, senyummu membias warna indah... Tiada keluh bersandingkan kesah dalam setiap ucap gerakmu, yang masih tersenyum... 

Pendaran beranjak condong ke ufuk peraduan, engkau pun membasuh peluh dalam tetesan itu...senyummu. Rajut merangkai kata yang kau tempel di catatan samarmu, mengisi mukti dari cerita panjang hidupmu. Mencari titik akhir cerita dalam sejarah indahmu... Berlalu dari sengatan surya, dalam jeda di singgahmu... Menanti kejora lambaikan damai bercumbu pada temaram diatas panggung lembayung senja. 

Dalam singgah engkau temukan Telaga, benamkan dahaga di kegersangan rasa. Kau teguk jernihnya telaga rasa, engkaupun semakin teduh dalam rindangmu...di teian telaga engkau menjulang tinggi kokoh di teduh rindangmu. Sejukkan Telaga yang selama ini menyendiri dalam pelukan surya, nantikan hanum yang merindu di teduh rindangmu... Engkau yang tersenyum indah bersama Telagamu.. 

Perlahan pendaran surya hanyut dalam pelukan ufuk di peraduan , jedanya tuk sambut sang esok...lembayung pun tak lagi senja. Kembali abadi menampak dalam gulita semesta, engkau yang tetap teduh...tersandaralah Telaga di teduh damainya rasa. Gemintang gemulai dalam tarian malam, purnama terkulai dalam pelukan rembulan...seakan tak mau tertinggal, sang bayu lirih melantun nyanyikan kerinduan...pucuk pinus pun tersenyum dalam dendang di panggung gulita malam. 

Malam semakin malam, gulita riang dalam benderang rembulan, lepaskan penat dalam perjuangan panjang di perjalanan hidup. Peluh yang terkucur oleh kesah sirna akan kesejukan di teduhnya hati kala damai rengkuh dirindangnya jiwa, sukma pun tersenyum di jernihnya Telaga... 

Bersama menghadap Sang Penyata akan nikmat peluh, kucuran semangat dalam wujud keringat semakin kuatkan wujud spiritual diri dalam pribadi kami...semakin menyeimbangkan kami sebagai Neraca antara Nurani dan Tirani yang bersemayam dalam kejernihan hati...semakin larut dalam hening sunyinya gulita...hening kami dalam renung cipta, sujud akan segala warna warna indah ciptaMU... 

Sepertiga malam waktu tersisa mewujudkan penyatuan dalam doa dari satu kesatuan mantra mantra jiwa atas namaMU...segala bentuk adalah wujud nikmatMU, dan langkah kami atas restuMU... Teduhkan Rindang damai kami, Jernihkanlah Telaga tempat kami membasuh diri... Teduh bersandingkan Jernih dalam Abadi-MU...

Titik akhir cerita dalam sebuah cerita yang selalu mencari akhir cerita dari sebuah cerita tanpa akhir sebuah perjalanan panjang "Matahari Timur"


"........dalam heningnya, esok kan menjelang"

17.26_27.02.13





Sabtu, 05 Januari 2013

ketika setia berkata...

setia...

ya...ia akan setia terhadap kata kata
ya...ia senantiasa setia kepada sang terucap
ya...ia tak kan ingkar oleh geraknya
ya...ia akan setia terhadap kaki dalam langkahnya

ketika ia berkata setia...

ia akan setia temani netra dalam tampak pilihnya
ia akan tetap setia menjaga alunan simphony hatinya
ya...ia akan setia kepada angin tuk dekap siupnya
ya...ia akan tetap setia berdampingan dengan malam di siangnya
ya...ia akan tetap setia...

ketika ia setia...

ya...ia akan tetap setia dengan dengan senyum dalam dukanya
ya...ia setia pada bahagia, setia akan renungan tuk kekalkan rasa'nya
ya...ia akan setia di butiran waktu yang mengodanya
ya...ia akan tetap setia pada lingan rasa'nya

ia setia...

setia akan diri di pribadinya
setia pada sukma dalam jiwanya

ya...ia akan setia kepada setianya rasa

...rasa setia







Selasa, 18 Desember 2012

kaca berkaca...

berkarat kerak cermin berkaca
retak terpendam kerak kerak karat
cermin pada bayang cerminan kaca
berkaca kaca karat berkaca

balik bayang membalik bayang
bayangan  kaca terbalik bayang
kaca kaca terbalik
bayang pun membalik  kaca

kerak...karat...kaca sebuah bayang

pendam kerak berkarat
retakkan cermin membayang kerak 
menjalar kerak  terpendam
cermin berkaca kaca

terpendam dalam kaca kaca
cermin tersimpan kerak kerak karat
kerak karat mewujud cerminan
berkaca kacalah kerak kerak karat

kerak yang mengarat pun berkaca kaca...


@pinggiran aspal pelosok tanahku...01.36_17.12.12   





Kamis, 06 Desember 2012

"jeda dalam singgah"

siup hantarkan senyum rasa itu
pencarian dari apa yang tertemukan

diamku dalam senyum...

dahaga akan sebuah ricik, singgahku karenamu
riak riak menari mengoda dalam sembunyinya

keringkah Telaga itu...

dimana aku menemukan tempatku singgah dalam perjalanan panjangku...

damaiku kala gelombangmu hampiriku di tebirnya
riuh nyanyian lingkar telagamu
kembalikan jiwa tersamar
di telagamu...semilir dekapku dalam peluknya

hentakan kian menghantam 
runtuhkan tembok penahan rasa itu 
tak mampu belenggu gapai kekuatan sebuah rasa
hanya Yakin mewujud tiang di rindangnya

...aku yang tersenyum di Telaga'mu

26.11.12_02.31