sebuah kanvas samar terisi lukisan dari kumpulan oret oretan di waktu senggang dipelukan rasa damai...
Minggu, 25 Agustus 2013
Senin, 27 Mei 2013
Yang Terlupakan... (BENDERA SETENGAH TIANG)
bagiku...tetesan keringatmu adalah cambuk pelecutku
bagiku...lantang suaramu adalah halilintar semangatku
bagiku...sosokmu adalah energi dalam ragaku
bagiku...kerut di rautmu adalah penuntun dalam pengabdianku
bagiku...cucuran darahmu adalah isi dari segala jiwaku
...dan
bagiku...Engkau tetap PAHLAWAN'ku...PAHLAWAN BESAR'ku
perjalananmu adalah bentangan Persada
lukamu adalah penghapus linangan Pertiwi
dalam ragamu membara sang MERAH
di jiwamu bernaung sang PUTIH
bagiku...
Engkau tetap PAHLAWAN'ku...
BANGUN...!!! BANGKIT...!!! BERGERAK...!!!
POETRA POETRI PERTIWI...
linangan dalam tunduk'ku...
...teruntukmu PAHLAWAN.
Senin, 29 April 2013
habis terang terbitlah gelap...
Diri
terpeluk waktu dalam mukti pribadi
Buai
jalan likumu paksa sukma tuk merintih
Tertatih
aku melangkah di semu’nya benderang
Rangkai
sisa tapakmu dalam perjalanan panjang
Terlena aku dalam benderang…
Jurang mengangah buas menerkam…
Engkau
pergi berlalu selami temaram
Diheningmu
kidung kidung berlarian
Mengurai
kusut berbentuk rajutan
Tuk
mewujud Dwi Warna lembar helaimu
Aku yang menjauh dari sejatiku
Berdetak oleh ulur lentik jemarimu
Kembali
sosokmu rasuki jiwaku
Gumpalkan
energi sejati di ujung pedangku
Menebas
kokoh gincu gincu manjaku
Tuk
kembalinya sejati diri dalam pribadiku
Pertiwi…
Aku
kan menari di gulita ciptaku
Pertiwi…
Aku
anakmu
Kami
Poetra Poetri’mu
Pertiwi…
Hentikan
jeritmu
Murni
tetesanmu usahlah berlinang
Pertiwi…
Aku
anakmu
Kami
Poetra Poetri’mu
Rabu, 10 April 2013
Sendal Jepit…
Kemana wujud dari sebuah
sendal… LANDASAN tapak tuk berjejak
Sembunyikah penamu… tuk
torehkan SEJARAH
Sampul sampul indah
bukumu… apa hanya tuk palingkan CERITA
Kain pun masih Terberai
Secuil guratan tangan
tercampak keindahan
Wajah berparas lentik
tikam sejawat
Gagahmu yang berpaling
Goyang warna dalam pena
Sendal kembali
tertapak… LANDASAN
“100113”
Samuderamu…
Berjalan ke arahku engkau tapakkan senyummu
Berhimpit waktu, kau bentangkan rindu akan rasamu
Melawan sebuah gambaran, goretkan tinta tinta warna
Kanvas berisikan buliran rindu, bentuk lukisan abstrak
akan semua itu
Satu…yang tersatukan
Awalan langkah mulai tergerak
Tapakkan jejak tuk perjalanan panjang
Mencari titik akhir cerita dari derita tanpa akhir
Jabat eratmu dekap langkah kita…
Berpaling dari warnamu, reguk buah hasil rasa itu
Indah tercipta di warna baru
Yang selalu tersenyum
…bias indahmu
Terkadang engkau berontak akan warnaku, wujud akan rasamu
Emosimu samar terkadang menyapaku, khawatirmu…
Semua kau perlihat dengan bahasa nyata
Senyummu…
Yang selalu bersama dalam Samuderamu… (Tanah Persada)
…Anak Angin di tapaknya yang tak terjejak
Terbahak dalam hiruk keramaian…
Kala setiap manusia bertarung dalam peperangan hidupnya, aku
mulai dihantui oleh kelakar candaku…lalu lalang kesedihan tak berujung,
berhembus butiran debu di pipimu…mengejar mimpi mimpi di bayang angan itu,
keluar engkau dari lamun tengadah…
Berjalan
angan tak tersentuh
Kecup
mimpi sunyimu
Kala
waktu mengoda memelukmu, senyum tersipu
Beranjak
dari sadarmu, engkau pun memulai itu
Terbahak
langkah lunglai, peluh basuh semangatmu
Terjang terjal mengarahmu, semnyum kau lalui itu
Kerikil pun gelitik tapakmu
Angan terpanggang tergoda tawa
Menjelma semu butiran mimpi
Menangis merintih engkau tersenyum
Sibak tirai lamun tengadah
Menari nari…berlaria terirak tiram
Mencari arti dari arti
Miliki mimipi wujud sebuah arti
Mimpi mimpi pun berarti
… yang berlari mengejar mimpi dalam sebuah arti
“0202_052012”
Sabtu, 16 Maret 2013
"Matahari Timur"
Berlalu tinggalkan yang lalu, ia pun beranjak menapak. Dalam
renungan malam ia bertatap menghadap pada Sang Penyata, tanyakan jawab
yang tersembunyi... Ia masih beranjak... Tatapan kosong penuh arti ia
tampakkan, buah pencarian di sunyinya gemintang.
Bernyanyi riang dalam tangis diri, wujud bahagia ia dapatkan dari Sang Penyata. Gulita perlahan benamkan biasnya, melaju sambut pendaran fajar...ia yang masih perlahan...kemerah merahan mulai menampakkan paras berwujud cipta, nantikan tangan tangan bercumbu pada kaki kaki terlangkah...
Semakin menampakkan wujudnya, ia mulai memeluk diri diri yang terpaku dalam kegelapan...belai pribadi dengan sinar di kehangatan pagi, masih memeluknya...pikul beban pribadi dari diri diri yang masih tersembunyi.
Malam gelaplah pada gulita, beraikanlah warna warna merugi. Siang teranglah pada benderang, wujudkanlah pribadi indah dalam warnanya...yang perlahan. Ia tampakkan wujudnya di timur kejauhan, teramat dekat kala sang diri mampu merasa hangat dalam biasnya...tak kan pernah merasa jauh teruntuk jiwa yang damai dalam pendaran sinarnya...
Menapak di hangatnya pagi, ia pun beranjak... Mencari rangkaian dari kata kata terberai tuk wujudkan catatan samar dalam sebuah kanvas fana. Dimulai dari prolog kecil ia merangkai kayanya kata yang masih kuncup dalam warna dunia. Urutkan sajak hidup terbenam oleh peluk temaram, terpendarlah...
Di sengatan surya meninggi semakin deras kucuran itu, peluh di tiap tetes keringatmu...apa itu wujud linangan darahmu...gambaran dari peperangan dalam perjuangan hidupmu... Engkau pun masih nikmat, senyummu membias warna indah... Tiada keluh bersandingkan kesah dalam setiap ucap gerakmu, yang masih tersenyum...
Pendaran beranjak condong ke ufuk peraduan, engkau pun membasuh peluh dalam tetesan itu...senyummu. Rajut merangkai kata yang kau tempel di catatan samarmu, mengisi mukti dari cerita panjang hidupmu. Mencari titik akhir cerita dalam sejarah indahmu... Berlalu dari sengatan surya, dalam jeda di singgahmu... Menanti kejora lambaikan damai bercumbu pada temaram diatas panggung lembayung senja.
Dalam singgah engkau temukan Telaga, benamkan dahaga di kegersangan rasa. Kau teguk jernihnya telaga rasa, engkaupun semakin teduh dalam rindangmu...di teian telaga engkau menjulang tinggi kokoh di teduh rindangmu. Sejukkan Telaga yang selama ini menyendiri dalam pelukan surya, nantikan hanum yang merindu di teduh rindangmu... Engkau yang tersenyum indah bersama Telagamu..
Perlahan pendaran surya hanyut dalam pelukan ufuk di peraduan , jedanya tuk sambut sang esok...lembayung pun tak lagi senja. Kembali abadi menampak dalam gulita semesta, engkau yang tetap teduh...tersandaralah Telaga di teduh damainya rasa. Gemintang gemulai dalam tarian malam, purnama terkulai dalam pelukan rembulan...seakan tak mau tertinggal, sang bayu lirih melantun nyanyikan kerinduan...pucuk pinus pun tersenyum dalam dendang di panggung gulita malam.
Malam semakin malam, gulita riang dalam benderang rembulan, lepaskan penat dalam perjuangan panjang di perjalanan hidup. Peluh yang terkucur oleh kesah sirna akan kesejukan di teduhnya hati kala damai rengkuh dirindangnya jiwa, sukma pun tersenyum di jernihnya Telaga...
Bersama menghadap Sang Penyata akan nikmat peluh, kucuran semangat dalam wujud keringat semakin kuatkan wujud spiritual diri dalam pribadi kami...semakin menyeimbangkan kami sebagai Neraca antara Nurani dan Tirani yang bersemayam dalam kejernihan hati...semakin larut dalam hening sunyinya gulita...hening kami dalam renung cipta, sujud akan segala warna warna indah ciptaMU...
Sepertiga malam waktu tersisa mewujudkan penyatuan dalam doa dari satu kesatuan mantra mantra jiwa atas namaMU...segala bentuk adalah wujud nikmatMU, dan langkah kami atas restuMU... Teduhkan Rindang damai kami, Jernihkanlah Telaga tempat kami membasuh diri... Teduh bersandingkan Jernih dalam Abadi-MU...
Titik akhir cerita dalam sebuah cerita yang selalu mencari akhir cerita dari sebuah cerita tanpa akhir sebuah perjalanan panjang "Matahari Timur"
"........dalam heningnya, esok kan menjelang"
17.26_27.02.13
Langganan:
Postingan (Atom)







nama mu adalah kami,kita...ya semua pada garis titian mu
engkau hidup..kami hidup...
raga hanya kencana pada ufuk ia terpeluk jingga
jiwa mewujud warna dalam sederhana
sayup di netramu pendam bara luapan jiwa
nada mu mengema mengembara...mengalun di tepian mukti nadi
membias senyum mu, engkau peluk kami membalik cahaya
rengkuh lingkar erat kami di kejauhan...
"untukmu amink"